-
Use Cases
-
Resources
-
Pricing
July 19, 1980
% complete
14 April 1982 - Now
% complete
Ikatan Waria Yogyakarta, dalam perjalanannya, melalui beberapa perubahan nama: Gado-Gado Wadam, Iwayo, Pawama, Iwama, sebelum akhirnya kembali menjadi Iwayo di awal tahun 2000-an..
Iwayo berdiri sebagai komunitas sebaya dengan olahraga voli dan sepak bola sebagai kegiatan utama. Mereka mulai masuk ke isu kesehatan publik di akhir tahun 1980-an, ketika PKBI Yogyakarta melibatkan mereka dalam kegiatan penjangkauan. Setelah vakum, di akhir tahun 90-an, Iwayo kembali aktif pada tahun 2006 dengan Shinta Ratri sebagai ketua. Iwayo, di periode pasca 2006 banyak fokus ke isu HAM.
27 August 1983 - 1987
% complete
1996
% complete
1999
% complete
2002 - 31 March 2008
% complete
Discussion Group
October 2004 - Now
% complete
HIV Organisation
18 December 2006 - Now
% complete
Sejak itulah Organisai Kebaya berdiri pada tanggal 18
Desember 2006 yang di prakarsai oleh sekelompok waria yang
konsen terhadap laju epidemi HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta.
Pendiri Organisasi Kebaya ini ada 4 orang yaitu Vinolea Wakijo,
Yuni Shara, Yetty Rumanopen, Arum Mariska, dan ari Pardiana.
2007
% complete
October 10, 2007 - Now
% complete
Eben Ezer berawal sebagai komunitas yang diinisiasi oleh transpuan yang tinggal di jalanan. Dibentuk pada 10 Oktober 2007, Eben Ezer fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan orang jalanan, salah satunya adalah perda no.1 tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis. Selain itu, mereka juga aktif melakukan advokasi tentang hak-hak administratif komunitas transpuan, termasuk pembuatan 15 KTP untuk transpuan di tahun 2014. Eben Ezer merupakan salah satu jaring pengaman sosial, berdampingan dengan Organisasi Berbasis Komunitas transpuan lain di Yogyakarta.
2008 - Now
% complete
31 March 2008 - Now
% complete
2011
% complete
HIMAG muncul pertama kali di universitas negeri terbesar di Yogyakarta pada tahun 2011. Setelahnya disusul setahun kemudian muncul di universitas negeri lainnya di Yogyakarta pada tahun 2012. HIMAG memiliki anggota yang anggotanya tersebar diberbagai fakultas dan jurusan. (www.kompasiana.com, 2011)
HIMAG menyediakan sarana dan prasarana bagi para penganut LGBT untuk dapat menumpahkan segala keluh kesahnya, bahkan untuk mencari pasangan yang senasib dengan mereka. Organisasi-organisasi ini memfasilitasi, menaungi, menampung segala sesuatu yang berkaitan dengan orientasi seksualitas. Kebanyakan organisasi yang berdiri merupakan atas dasar pemikiran para penganut LGBT untuk dapat terus memperjuangkan haknya. (Anonim, 2012).
HIMAG atau Himpunan Mahasiswa Gay hadir sebagai wadah perkumpulan para mahasiswa gay di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. HIMAG bertujuan mengumpulkan sebanyak mungkin mahasiswa gay untuk menyuarakan diri juga melepaskan dari stigma dan diskriminasi, lengkap dengan sistem keorganisasian dan kepemimpinan.
Dalam perjalanannya HIMAG mampu memenuhi kebutuhan anggota, yakni teman-teman sesama gay, informasi mendukung, wadah, dan rasa aman. HIMAG memberikan rasa aman agar dapat berekspresi bersama, dan sebagai wadah berlindung atas permasalahan mereka. Dinamika proses kehidupan mengantarkan HIMAG pada tantangan tentang kemahasiswaan, sistem keorganisasian dan kepemimpinan, juga persoalan identitas menyeluruh. Tak berhasilnya proses internalisasi mengakibatkan perjalanan HIMAG tersendat, seperti hubungan anggota dengan pengurus, kegiatan tidak berjalan lancar, sampai hubungan dengan komunitas atau perkumpulan lain. Secara keseluruhan HIMAG belum mampu mewujudkan identitasnya di kampus. Sedangkan anggota sibuk mewujudkan diri dalam bentuk lain. Semuanya berada di balik bayang samar gedung-gedung kampus, di tengah riuh-rendah tawa mahasiswa, dan tersembunyi dalam dunia maya.
Hilman 25.9.21
Referensi:
Judul dan Nama Penulis tidak diketahui, Bab II: Komunitas LGBT di Indonesia, hal. 70 (https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjcksSO8pfzAhW6ILcAHaxuBv8QFnoECAwQAQ&url=http%3A%2F%2Fjurnal.unmuhjember.ac.id%2Findex.php%2FPROGI%2Farticle%2Fdownload%2FRak%2F2490&usg=AOvVaw3bJh8jQNdUikQp4qZAXKmc)
Himpunan Mahasiswa Gay (HIMAG): Interaksi, Komunikasi, Keorganisasian, dan Identitas, Muhammad Dany Nugraha; Anna Marie Wattie;, 2015, Yogyakarta (http://etd.repository.ugm.ac.id/home/detail_pencarian/78623)
% complete
1980
% complete
Yosie Hana (36 tahun, pada tahun 1980) terlahir tanggal 27 Juni 1943 sebagai anak laki-laki ke-10 pengusaha kaya raya yang memiliki toko bertingkat (Toko Hien) di daerah Malioboro Yogya, namun semenjak kecil tepatnya sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3 sudah merasa dirinya sebagai perempuan. Sewaktu bersekolah di lanjutan (riwayat pendidikannya meliputi Sekolah Menengah Atas dan bangku kuliah di IKIP Yogyakarta) sudah sering mengenakan pakaian wanita.
Ia adalah salah satu tokoh waria yang memiliki keinginan untuk membuat wadah organisasi untuk para waria di Yogyakarta. Melalui organisasi tersebut, ia ingin memperjuangkan nasib dan hak hidup para waria pada umumnya. Yosie melakukan pendekatan satu per satu dengan para waria di kota Gudeg dengan bantuan kedua temannya, Henny HS sebagai sekretaris dan Yetty Novita sebagai bendahara. Yosie merasa kesulitan dalam proses pengorganisasian para waria di Yogyakarta, salah satu alasannya karena mereka kurang kompak dan kurang peduli dengan upaya mewadahi hak-hak waria dalam suatu organisasi. Selain itu, rupanya niat ini tidak mendapat sambutan dari pemerintah daerah.
Selain melibatkan diri dalam inisatif pengorganisasian komunitas waria, Yosie mengurus usaha-usaha seperti yang ia jalankan di rumahnya (Jl. A. Yani 85 Yogyakarta) yaitu "Hien Fashion Centre" dan salon rias/pangkas rambut. Di samping itu ia juga adalah seorang penata rias, modis, dan desainer batik. Sejak tahun 1970an ia sudah kerap menyelenggarakan pertunjukan fashion, yang selain diadakan di kota Yogyakarta, juga diadakan di kota-kota lain seperti Semarang dan Pekalongan.
Pada tahun 1980an ia pernah mengadakan pertunjukan bertajuk "Poetry Dancing Manusawi" dengan dukungan Teater Republik dan grup band Asdrafi (Akademi Seni Drama & Film) yang melibatkan 12 waria. Isi pertunjukan itu meliputi pembacaan puisi dan sajak, seni tari, nyanyian, yang kesemuanya diiringi oleh grup band Asdrafi. Kawan-kawan dari Teater Republik memberikan pelatihan selama 1 bulan untuk mengerti cara membaca puisi, gerak panggung, dan tata panggung. Latihan dilaksanakan di Gedung Kebudayaan Kota Baru milik Departemen P&K. Pertemuan dengan para wartawan di Balai Wartawan Yogya sempat menjadi jeda untuk jadwal latihan mereka. Di pertemuan tersebut, mereka dapat meluapkan isi hati: keresahan mereka sebagai waria yang ingin berorganisasi dan berhasil mendapat umpan balik berupa dukungan dari pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) agar berbagai institusi mau menerima keberadaan organisasi mereka.
Pertunjukan yang dikenang sebagai pertunjukan pertamanya ini disebut menerima tanggapan positif oleh masyarakat kota Yogyakarta. Ia juga berencana untuk membuat pertunjukan semacam ini lagi di kota lain, dengan persiapan atau pelatihan yang lebih matang bagi para penampilnya. Kegiatan ini juga mendapat restu orang tuanya, sebagaimana juga mereka mendedikasikan satu kamar di Toko Hien untuk dijadikan kantor wadam.
Ia sempat melakukan perjalanan ke Hong Kong pada bulan Januari 1981. Perjalanan ini ia lakukan dalam rangka mewujudkan salah satu keinginannya, yaitu operasi "tukar kelamin." Selain itu ia juga berkeinginan untuk memperdalam pengetahuan tentang tata rias, tata busana, dan keahlian kewanitaan lainnya di sana.
Di dalam riwayatnya (Moerthiko:1980) juga disebutkan bahwa ia berhasil mengumpulkan 100 waria ke dalam organisasi waria yang ia inisiasi. Namun di dalam catatan riwayat tersebut tidak disebutkan lebih rinci apa nama organisasi yang ia bentuk dan kapan peristiwa tersebut terjadi. Beberapa hal yang disebutkan lebih rinci adalah susunan pengurus organisasi, seperti Yosie Hanna sebagai ketua, Henny HS sebagai sekretaris, dan Hemi S. bersama Yetty Novita sebagai bendahara. Pada catatan lain (Tempo:1980) disebutkan bahwa organisasi atau perkumpulan tersebut bernama Warung Wadam. Nama ini, menurut Yosie, dipilih karena memiliki kesan merakyat (dari kalangan menengah ke bawah). Mereka juga bermaksud memberikan bimbingan kepada kawan-kawan waria yang melakukan "operasi malam" di bilangan Baciro ke profesi yang lain. Di catatan lain itu juga disebutkan 100 orang waria di Jogja memiliki berbagai macam pekerjaan, 15 di antaranya adalah pekerja seks komersial dan sisanya bekerja sebagai penjahit, penata rambut, pedangan kecil, dan lain-lain (termasuk beberapa di antaranya juga memiliki modal suara yang baik untuk bernyanyi).
Salah satu hal penting lain yang perlu di catat pada pertemuan di Balai Wartawan Yogya tersebut adalah interaksi penulis riwayat dengan soerang waria (yang tidak disebutkan namannya) menunjukan KTP-nya sambil berkata: "Ini, jenis kelamin saya di KTP ditulis sebagai Wadam."
Hilman (last update: 27.10.21)
Referensi:
Kehidupan Transexual & Waria, Moerthiko, Surya Murthi Publishing, 1980, hal. 90-95
URL: https://drive.google.com/drive/folders/1iCu6GYGIbbi4qEaF-ICPBrQGVtsu40_z?usp=sharing
Tempo 19 Juli 1980 - Sebuah Proklamasi Kaum "Banci"
URL: https://drive.google.com/file/d/1AW56CA48-iPC2qJdb71ul-5pw85TpPrr/view?usp=sharing
1996
% complete
Lentara, PKBI
1996
% complete
Juni 1980
% complete
Poetry Dancing Manusiawi adalah "waria show" yang digagas oleh Yosie Hana dengan dukungan Yoyok Ario dari Teater Republik dan grup band Asdrafi (Akademi Seni Drama & Film). Acara ini berlangung di gedung olahraga Kridosono pada bulan Juni 1980. Setiap pengunjung dikenai biaya karcis masuk sebesar Rp1.000,- untuk VIP dan Rp4.00,- untuk kelas tribun. Karcis masuk yang terjual habis menyumbangkan pemasukkan sebesar Rp1.500.000,- kepada penyelenggara. Ada 12 waria yang malam itu masing-masing membacakan puisi karangan mereka sendiri, dengan selingan atraksi lain seperti nyanyian dan tarian yang semuanya diiringi musik persembahan grup band Asdrafi. Dalam liputannya, Majalah Tempo menggambarkan bahwa pertunjukan ini memiliki tata panggung yang cukup unik, "Ada dua tangga besar di kanan dan kiri pentas, di bagian tengah: bidang yang serupa lorong, tergeletak sepeda dengan tulisan "Start." di atasnya. Helatan ini dikenang sebagai pertunjukan grup Waria Yogya yang pertama dan merupakan sebuah proklamasi dari kelompok yang terpojok.
Beberapa puisi yang dibacakan di pertunjukan Poetry Dancing Manusiawi:
"Alam yang menjadikan kami/Hingga kami begini/dan kami juga punya hak asasi/Bersatulah kaum wadam/Dan kibarkan panji-panji wadammu/Masa'/Kita harus selalu timbul/Dalam kegelapan/Sedang, setiap hari selalu ada matahari/Yang timbul dari timur/Mari kita buktikan/Siapa yang lebih mampu dalam hal ini/Kami kaum wadam, atau anda"
"Tuhan/Untuk apa aku dilahirkan seperti ini/Orang mengejek dan mencemohkan/Tuhan/Padahal kau/Melahirkan wanita yang konon sempurna/Tapi dirinya dijadikan obyek murahan/Atas nama pemilihan ratu-ratu kecantikan...."
Hilman (last update: 27.10.21)
Referensi:
Kehidupan Transexual & Waria, Moerthiko, Surya Murthi Publishing, 1980, hal. 90-95
URL: https://drive.google.com/drive/folders/1iCu6GYGIbbi4qEaF-ICPBrQGVtsu40_z?usp=sharing
Tempo 19 Juli 1980 - Sebuah Proklamasi Kaum "Banci"
URL: https://drive.google.com/file/d/1AW56CA48-iPC2qJdb71ul-5pw85TpPrr/view?usp=sharing
10 December 1993 - 12 December 1993
% complete
Hilman 25.9.21: Surat pembaca soal KLGI 1 1993
Sumber: Jaka-Jaka Vol. 5 Juni 1993
URL: https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1ux3XTrDgNDgYIJKnBSlgkZXniqFVYM87
Hilman 25.9.21: Refleksi tentang KLGI 1
Sumber: Jaka-Jaka Vol. 6 April 1994 Hal 3-4
URL: https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1Bvv3JJyJKweqETYjwsdjy1sdBTchd61B
27 November 1999
% complete
Party di Kaliurang Jogja
Ovi 7.9.2021: poster dari Jaka-Jaka Ed. 6 Hal. 13
1 March 2000
% complete
November 11, 2000
% complete
December 17, 2003
% complete
Yuni Shara Al Buqori, salah satu transpuan yang aktif dalam kerja-kerja advokasi di PKBI pada awal 2000-an terlibat dalam pementasan “Ayahku Stroke tapi Gak Mati”. Lakon ini dipentaskan oleh Teater Gardanalla dan disutradarai oleh Joned Suryatmoko.
July 6, 2008 - July 7, 2008
% complete
Bercerita tentang sebuah grup penghibur yang pandai menyanyi dan menari, grup yang bernama Deleilah ini, diawaki oleh tiga transpuan: Rosi (Kusuma Ayu), Luna (Maria Alda Nocika), dan Happy (Arum Marischa). Kelompok ini sukses mendapat banyak penggemar di Metro Club. Bagi Metro, Deleilah adalah aset, dan bagi Deleilah, Metro adalah panggung yang sempurna: Metro dan Deleilah, hadir untuk saling melengkapi.
Dimainkan oleh delapan transpuan, pertunjukan ini dipersiapkan selama hampir 5 bulan oleh Joned Suryatmoko (sutradara) dan tim FKY XX 2008. Dalam pelibatan para transpuan dalam produksi ini, panitia melakukan proses audisi untuk peran trio Deleilah dan beberapa transpuan lain sebagai aktris pendukung.
Deleilah adalah salah satu produksi teater yang melibatkan komunitas transpuan pasca penyerangan KKWK tahun 2000. Dipentaskan dua kali (6 dan 7 Juli 2008), pentas ini selalu penuh oleh penonton. Dalam prosesnya, teman-teman transpuan dilibatkan untuk menentukan arah cerita sekaligus memberi insight tentang cara-cara menampilkan kehidupan transpuan dalam sebuah pementasan.